Senin, 07 Juni 2010

MEMIKIRKAN KEMATIAN

Pernahkah kita berpikir bahwa jasad kita hanya seonggok daging yang diberi nyawa. Ia begerak karena kehidupan ini membutuhkannya dan ia kelak tidak akan bergerak karena kehidupan ini akan menyingkirkannya. Hanya yang tidak pernah diketahui adalah bagaimana kehidupan itu akan berakhir. Sudah saatnya bagi kita untuk berpikir sejenak mengenai akhir kehidupan, setelah sepanjang kita berkutat dengan dengan keindahan dunia. Ya, keindahan cinta dan kemegahan harta memang terkadang sinarnya terlampau kuat untuk diterima mata. Ketika cahaya tersebut mendatangi manusia, sungguh ia tidak mampu berpikir yang lain selai tentangnya.

Apa yang kita nikmati pagi ini mungkin akan lenyap ketika petang menjelang. Jika beruntung kita dapat menemui kematian dalam keadaan yang baik. Lalu manusia dan Tuhannya mengenal kita sebagai manusia yang baik pula. Kalau keadaannya seperti itu kita sungguh beruntung kawan. Tapi terbayangkah pula di dalam benak kita, bahwa maut akan menjemput kita ketika kita sedang bergelut di atas lumpur dosa. Dan kebanggaan apa yang kira-kira masih tersisa ketika keadaan tersebbut yang kita temui.

Aduh, kiranya kita tidak memiliki waktu banyak hanya sekedar berpikir tentang kematian. Tapi kukira kita semua memiliki cukup waktu untuk berbuat sesuatu bagi manusia lain. Tentu saja perbuatan yang baik saudaraku!

Jumat, 28 Mei 2010

KALAU

Kalau setiap orang bergerak kepada cahaya yang terang

lalu membagi cahayanya

kepada setiap sudut jalan yang gelap gulita

kukira di dunia ini akan tampak

laksana surga yang diberkahi oleh Tuhan.

 

Tapi sayang sungguh sayang

manusia hanyalah manusia

dipenuhi kesombongan yang berlebihan,

akhirnya yang tampak kemudian

adalah surga bagi sebagian yang lain,

dan sebagian ini

menciptakan neraka bagi sebagian yang lain.

Dunia ini memang luar biasa, saudaraku.

 

Tidakkah engkau kini menyadarinya?

 

 

 TRI AGUNG SETYAWAN

Kamis, 18 Februari 2010

MAAFKAN AKU MERAH PUTIH

Maafkan aku merah putih
terlambat kukibarkan engkau hari ini
sementara kesombonganku membumbung tinggi
menembus batas langit yang kukira tetap berwarna biru

Maafkan akau merah putih
tak mampu bersuka bersama pecintamu
bernyanyi sambut kemenangan
jangan menangis merah putih
aku hanya mencari sedikit rupiah
untuk kencan dengan pacarku nanti malam
jika tak kudapatkan
pacarku pasti lenyap diantara kepakkan sayap merpati
yang hendak pulang ke pelukan ibunya
jangan khawatir merah putih
kabarmu masih di sini
menemani cinta biruku
bersama rindu pacarku yang tak lagi berwarna biru
sekali lagi
maafkan aku merah purtih

Senin, 11 Januari 2010

TENTANG MATAHARI

Matahari sudah tak terang lagi
cahayanya sekarang agak redup
ini benar
engkau jangan tertawa
tidakkah ketakutan menyetubuhimu
meski tak sampai
membuatmu bersembunyi di bawak selimut
atau di ketiak ibumu

Ah…
kau masih tak percaya juga
lihatlah jemuranku tak juga kering
sejak kemarin bajuku tak juga ganti
tidakkah kini kau percaya
kalau matahari kini sudah redup
sungguh seperti lampu kehabisan minyak
dan kita tak pernah tahu
kapan matahari itu akan padam

…lebih baik mari kita beli lilin di pasar
siapa tahu besok matahari padam
tanpa pemberitahuan di koran atau media elektronik
karena biaya opreasional tinggi!

SABTU PAGI DI PEMAKAMAN

Hari ini ada yang meninggal
orang kaya yang tinggal di ujung halan desa ini
rumahnya terbuat dari batu bata yang belum sempat diplester
tiangnya dari bambu lapuk
atapnya dari rumbia
lantainya dari tanah yang dipadatkan
sungguh tak nampak sebagai hunian orang yang kaya

Dalam keseharian ia suka mengenakan sarung kucel
beserta kaos oblong petih dan peci yang sangat lusuh
katanya peci itu ia beli waktu pergi haji
sepuluh tahun yang lalu
sekali lagi kukatakan
ia sungguh tak kelihatan sebagai orang kaya
yang kutahu
ia tidak pernah jauh dari tasbih dan masjidnya
di sebelah rumahnya

KEPADA IBU PERTIWI

Ibu…
masih hangat rasanya
saat kusentuh segala hadirmu
melewati harum parfum luar negeri
yang menbuatmu sesak nafas

Ibu…
engkau sudah berubah
bedak dan gincu yang engkau pakai
samarkan pandanganku padamu
begitu hebat abad ini mengubahmu
betapa dasyat zaman ini pudarkan warnamu

Ibu...
peluklah aku dengan tangan hangatmu
yang pasti lebih hangat dari air mandi adikku di pagi hari
ciumlah keningku pagi ini
sebelum tunaikan mimpi yang kau pesan
bergantungan di sela-sela keringatku

Ibu...
cuci saja bedak dan gincumu
engkau pasti lebih cantik tanpanya
melebihi bidadari yang berlengggang
pada tiap jalan keponakan Paman Sam
berikan saja cintamu yang engkau gantungkan di langit
hanya cintamu
untuk kami
putramu
putrimu

JANGAN NANGIS DONG

Kemarin banyak orang sakit kepala
katanya sakit sekali
membuat orang susah berpikir tentang apa saja
termasuk tentang matahari dan bulan
yang kini mulai tak akur

Sekarang mereka tetap sakit kepala
ditambah mencret dan sariawan
sungguh
mereka sangat kesakitan
ketika hendak bersuara

Maafkanlah aku kawan
obat di apotik sebelah sudah habis
apalagi di warung Mbah Pariyem
tahansaja dulu
sebentar lagi ada penjual jamu mampir ke sini
nanti kamu minum segelas
atau bahkan lebih
tetapi jika tidak sembuh
ya jangan nagis dong